PORTALBELITUNG.COM, TANJUNGPANDAN — Di tepian Sungai Cerucuk, kehidupan masyarakat Desa Juru Seberang berjalan berdampingan erat dengan air. Desa pesisir seluas kurang lebih 1.600 hektare di Kecamatan Tanjungpandan ini bukan sekadar pemukiman nelayan biasa, melainkan ruang sejarah yang menyimpan rekam jejak panjang masyarakat bahari Belitung.
Nama Desa Juru Seberang sendiri tak lepas dari keberadaan Suku Juru, salah satu kelompok Orang Laut yang tercatat dalam catatan kolonial abad ke-19. Asisten Residen Belitung periode 1868–1875, Ecoma Verstege, serta P.H. van Diest (1875) mencatat Suku Juru sebagai kelompok masyarakat pesisir yang tangguh, mahir bernavigasi, serta memiliki keahlian tinggi dalam membuat perahu.
Selain Suku Juru, Desa Juru Seberang juga menjadi rumah bagi komunitas Suku Sawang. Sekitar 50 keluarga Suku Laut/Sawang yang dulunya hidup sebagai "manusia perahu"—lahir, tumbuh, dan beraktivitas di atas laut—mulai bertransformasi menetap di daratan Juru Seberang sejak era 1985-an.
Meski kini telah tinggal di rumah permanen dan beradaptasi dengan kehidupan modern, napas kebaharian warga Juru Seberang tidak pernah pudar.
Melestarikan Muang Jong dan Bahasa Lokal
Salah satu tradisi bahari yang masih terus dijaga hingga kini adalah Muang Jong, ritual budaya masyarakat Sawang dengan melarungkan replika kapal kecil (jong) ke laut. Tradisi ini menjadi simbol ungkapan rasa syukur, permohonan keselamatan, sekaligus sarana mempererat solidaritas antarwarga.
Namun, pelestarian budaya ini juga menghadapi tantangan zaman. Para tetua adat menaruh perhatian besar pada mulai berkurangnya penggunaan bahasa asli Sawang di kalangan generasi muda. Karena itu, dokumentasi sejarah lisan, pencatatan istilah bahari, dan perekaman cerita leluhur menjadi langkah krusial agar identitas lokal tidak hilang tergerus waktu.
Transformasi Menuju Desa Wisata dan Konservasi
Seiring berjalannya waktu, Juru Seberang kini tidak hanya mengandalkan sektor perikanan tangkap. Kawasan muara Sungai Cerucuk dan rimbunnya hutan mangrove kini dikembangkan menjadi potensi ekonomi baru berbasis ekowisata dan konservasi.
Melalui program Hutan Kemasyarakatan (HKm) Desa Juru Seberang, pemerintah desa bersama masyarakat aktif menggalakkan penanaman mangrove serta penataan kawasan wisata alam. Langkah ini menjadi bukti pergeseran paradigma masyarakat: dari yang dahulu mengambil hasil laut secara langsung, kini turut menjaga dan merawat ekosistem pesisir demi kelangsungan hidup generasi mendatang.
Juru Seberang menjadi bukti nyata bagaimana sejarah panjang Suku Juru, tradisi Suku Sawang, dan kelestarian alam Sungai Cerucuk dapat berkelanjutan dan menyatu di bumi Belitung. (PB/Red)
Để lại bình luận
Địa chỉ email của bạn sẽ không được công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *